AMBON – Dalam upaya nyata menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mendukung kemandirian bahan baku obat dan makanan, Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Ambon berkolaborasi dengan Universitas Pattimura (UNPATTI) menggelar aksi Gerakan Penanaman Sejuta Pohon. Kegiatan ini dipusatkan di halaman Fakultas Pertanian UNPATTI pada Rabu (25/02/2026).

Momentum ini dilaksanakan dalam rangka perayaan HUT Badan POM ke-25 dan Dies Natalis Universitas Pattimura ke-63. Acara ini dihadiri langsung oleh Sekretaris Daerah Provinsi Maluku, Rektor UNPATTI, Kepala Balai POM di Ambon, serta jajaran pimpinan instansi vertikal dan akademisi.

Kepala Balai POM di Ambon, Tamran Ismail, S.Si., S.Farm., M.P., menegaskan bahwa tugas BPOM kini melampaui pengawasan laboratorium. Menurutnya, perlindungan masyarakat dimulai dari hulu, yaitu lingkungan yang sehat.

“Dari ekosistem yang sehat akan lahir bahan baku berkualitas. Program ini adalah investasi jangka panjang untuk mendukung ketersediaan bahan baku alami yang aman dan bermutu secara berkelanjutan,” ujar Tamran.

Secara nasional, BPOM menargetkan penanaman satu juta pohon, di mana wilayah kerja Balai POM Ambon mengemban target 12.000 pohon. Hingga saat ini, sekitar 4.000 pohon telah tertanam, termasuk 500 pohon yang ditanam serentak di area kampus UNPATTI hari ini.

Rektor Universitas Pattimura, Prof. Dr. Fredy Leiwakabessy, M.Pd., menyambut hangat kolaborasi ini. Dalam sambutannya, ia memberikan tantangan terbuka kepada Fakultas Pertanian untuk tidak hanya menjadi lokasi penanaman, tetapi menjadi pusat produksi bibit unggul di Maluku.

“Saya menantang Fakultas Pertanian untuk menyiapkan satu juta bibit. Kita memiliki pakar tanah, budidaya, hingga teknologi hasil pertanian. Kita harus mampu memproduksi bibit sendiri untuk mendukung hilirisasi dan menjaga biodiversitas lokal seperti gandaria, pala, dan cengkeh agar tidak hilang dari buminya,” tegas Prof. Fredy.

Sekretaris Daerah Provinsi Maluku, Ir. Sadali IE, M.Si., IPU, yang hadir mewakili Pemerintah Provinsi, memberikan apresiasi tinggi. Beliau menekankan bahwa gerakan ini sejalan dengan visi pemerintah dalam adaptasi perubahan iklim dan penguatan ekonomi hijau melalui mekanisme pembayaran karbon (carbon payment).

“Penanaman ini tidak boleh berhenti di seremonial. Jika 500 pohon ditanam, minimal 75% harus hidup dan tumbuh. Saya minta ada pengawasan dan penyulaman berkala. Menanam pohon berarti menjaga masa depan anak cucu kita dan meningkatkan nilai ekonomi daerah melalui industrialisasi yang harmonis dengan alam,” pesan Sekda menutup sambutannya dengan pantun penuh makna.

Kegiatan diakhiri dengan penanaman secara simbolis oleh para pejabat yang hadir, sebagai simbol sinergi antara elemen ABG (Academic, Business, Government) dalam membangun Maluku yang lebih hijau dan mandiri secara ekonomi.

